Senin, 09 Maret 2015

Terpopuler - 11:00 Politikus 00:01 PKS: Denny 1ndrayana bukan Negarawan

INILAHCOM, Jakarta - Mangkirnya mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham), Denny Indrayana dalam pemeriksaan Bareskrim Mabes Polri menunjukkan bukan sikap seorang negarawan.

Anggorta Komisi III DPR, Aboe Bakar Alhabsy mengatakan, seharusnya Denny bersikap negarawan, yaitu mendorong setiap proses penegakan hukum dengan baik.

"Tentunya proses penegakan hukum tersebut harus menganut prinsip equality before the law. Yaitu semua orang harus diperlakukan sama didepan hukum, tidak boleh dibeda- bedakan," kata Alhabsy, melalui pesan singkatnya, Jakarta, Senin (9/3/2015).

Menurutnya, bila ada pihak lain yang diduga melakukan tindak pidana korupsi didorong untuk segera diselesaikan kasusnya, namun tidak demikian dengan Denny. Sebab, Denny yang terkena indikasi tersebut tidak mau mengikuti proses hukum yang berlaku.

"Ini namanya tidak memperlakukan sama setiap orang didepan hukum, itu menyalahi prinsip equality before the law. Atau yang dikatakan oleh Pak Wapres sebagai standar ganda dalam penegakan hukum," tegas politikus PKS itu.

"Harus diingat ketentuan pasal 1 ayat 3 UUD 1945, bahwa Indonesia adalah negara hukum. Oleh karenanya, penegakan hukum menjadi soko guru
kehidupan bernegara kita," tandasnya.

Karenanya, lanjut Alhabsy, sebaiknya Denny mengikuti proses hukum yang sedang berlangsung. Agar supremasi kedaulatan hukum menjadi panglima dalam penyelenggaraan negara.

"Jadi tak perlu mangkir dari panggilan yang disampaikan bareskrim. Jadilah tauladan yang baik untuk masyarakat," demikian Alhabsy. [fad]


source : http://nasional.inilah.com/read/detail/2185376/politikus-pks-denny-indrayana-bukan-negarawan

Terpopuler - 11:00 Unconditional 00:01 Love

MENJADI pencinta sejati, cinta tanpa mengenal kondisi (unconditional love) sudah amat langka di dalam masyarakat. Orang tua terhadap anaknya dan anak terhadap orang tuanya saja sudah sering terjadi peristiwa memprihatinkan. Ada yang saling membunuh atau bertindak kejam satu sama lain hanya karena persoalan sepele. Apalagi dengan hubungan persahabatan biasa.

Tingginya angka perceraian setiap tahun juga menjadi indikator akan hal ini. Terkadang persoalan yang sangat sepele membuat hubungan keakraban satu sama lain berakhir, bahkan ada yang berakhir dengan tragis. Padahal, di dalam Al-Qur’an dan hadis bertebaran kata-kata cinta.

Tidak kurang dari 14 terminologi cinta, di dalam Al-Qur’an, antara lain al-hubb, al-‘isyq, al-syagaf, al-widd, al-ta’alluq, dan lain-lain. Istilah-istilah itu menggambarkan berbagai bentuk dan kualitas cinta; mulai dari cinta moyet sampai cinta Ilahi (mahabbah). Semakin tinggi derajat cinta semakin terbatas persyaratan cinta itu, sehingga cinta itu tidak lagi mengenal dan tergantung pada kondisi tertentu.

Mungkin karena itu cinta ini disebut dengan unconditional love atau biasa disebut divine love ialah puncak kecintaan seseorang kepada Tuhan. Begitu kuat cinta itu maka seolah yang mencinta dan yang dicintai menjadi satu. Yang mencinta dan yang dicintai terjadi persamaan secara kualitatif sehingga antara keduanya terjalin keakraban secara aktif.

Sebetulnya semua orang berpotensi mencapai kualitas cinta sejati ini, karena memang semua berasal dari-Nya dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya  (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Kedua entitas itu berbeda namun sulit untuk dipisahkan, seperti laut dan gelombangnya, lampu dan cahayanya, api dan panasnya.

Kita tidak bisa mengatakan laut sama dengan gelombang, lampu sama dengan cahaya, atau api sama dengan panas, antara yang mencinta dan yang dicintai sama, atau antara makhluk sama dengan Khaliq. Namun hubungan antara satu sama lain tidak bisa dipisahkan.

Kedalaman cinta pada diri seseorang bisa mengimbas pada seluruh ruang. Jika cinta sudah terpatri dalam seluruh jaringan badan kita maka vibrasinya akan menghapus semua kebencian. Sebagai manifestasinya dalam kehidupan, begitu bertemu dengan seseorang, ia tersenyum, sebagai ungkapan dan tanda rasa cinta.

Nikmat sekali bermesraan dengan Allah SWT. Kadang tidak terasa air mata meleleh. Air mata kerinduan dan air mata tobat inilah yang kelak akan memadamkan api neraka. Air mata cinta akan memutihkan noda-noda hitam dan menjadikannya suci.

Cinta tidak bisa diterangkan, hanya bisa dirasakan. Terkadang terasa tidak cukup kosa kata yang tersedia untuk menggambarkan bagaimana nikmatnya cinta. Kosakata yang tersedia didominasi oleh kebutuhan fisik sehingga untuk mencari kata yang bisa memfasilitasi keinginan rohani tidak cukup.

Jiwa yang terlatih penjadi pencinta sejati akan mengantarkan kepada kebahagiaan abadi. Baginya seperti tidak ada lagi ruang untuk membenci. Rabi’ah Adawiyah ditanya, apakah engkau membenci iblis? Dijawab cinta telah memenuhi diri saya sehingga tidak ada lagi ruang untuk membenci siapapun. Beruntunglah orang yang memiliki kualitas cinta sejati. [*]


source : http://mozaik.inilah.com/read/detail/2166612/unconditional-love

Terpopuler - 11:00 Jangan 00:01 Menangisi Masalah atau Musibah

ADA sebuah perumpamaan tentang anak kecil yang bermain kotor-kotoran, dan dia mandi sendiri tapi tidak bersih. Kemudian orangtuanya memandikannya supaya bersih. Namun si anak tidak mau, karena dia merasa kalau dirinya sudah bersih.

Orangtuanya tetap membujuk agar anak yang disayanginya bersih. Sedangkan si anak terus menolak, meronta, dan berlari menghindar ke sana kemari sambil menangis. Sehingga saat orangtuanya membersihkan kepala, telinga sampai kakinya dengan penuh cinta, si anak pun terus tersedu-sedu, “Mengapa ibu membenci saya? Saya sudah mandi, saya tidak terima!”

Saudaraku, berapa lamakah waktu yang dibutuhkan anak tersebut untuk dimandikan orangtuanya? Selama ia menolak, meronta, berlari menghindar, tidak terima dimandikan, bahkan bisa bertambah lama jika ditambah lamanya waktu dia menangis.

Bandingkan kalau si anak menerima saat orangtuanya ingin memandikan lagi. Misalnya ibunya berkata, “Nak, kamu masih kotor.” “Oh, iya bu, saya masih kotor,” jawab si anak sambil mengikuti ke kamar mandi. Dan tidak terasa, sudah selesai.

Nah, anak kecil itu adalah perumpamaan. Ketika menghadapi suatu masalah atau mendapat sebuah musibah, kita suka tidak menerima dan tidak sanggup mengendalikan diri. Menjadi galau, menangis tersedu-sedu, mengacak-acak kamar tidur, menggerutu dan mengutuk di Facebook atau Twitter.

Ada juga yang memesan sekardus obat penenang, atau pergi ke diskotik meminum air keras dua liter. Bahkan ada yang mengambil jalan pintas lewat jendela untuk turun dari lantai tiga puluh. Padahal di gedung mewah itu sudah disediakan tangga yang canggih.

Mengapa kita tidak mengaku dan menerima saja? Saat ditimpa suatu kepahitan, kita langsung mengingat dan mengakui dosa yang telah mengundang kepahitan yang menimpa. Dan rida terhadap takdir yang sudah diberikan oleh Allah, karena Dia menyayangi kita. Allah SWT ingin membersihkan dosa-dosa kita, dan kita harus bertobat. Tidak mungkin bagi kita untuk menolak musibah yang terjadi, karena kepahitannya sedang kita rasakan sendiri.

Dengan begitu, tidak mau mengakui dosa itulah yang berbahaya. Tidak mau bertobat yang membuat kepahitan itu terasa semakin dan sangat pahit. Kalau tidak mau bertobat, bisa jadi masalah yang datang akan bertambah. Karena sumber pengundang masalahnya masih dipegang. “Dan barang siapa berbuat dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk kesulitan dirinya sendiri. Dan Allah Mahamengetahui, Mahabijaksana.” (QS. an-Nisâ [4]: 111).

Misalkan saudara lulus kuliah, dan diterima bekerja di sebuah perusahaan. Sebagai karyawan baru, saudara sangat bersemangat dan rajin. Tetapi mendekati tanggal gajian pertama, pimpinan saudara tiba-tiba diciduk karena penggelapan uang, sehingga perusahaan pun dinyatakan bangkrut.

Apakah kita akan menangis seharian, “Tangkap saja beliau yang telah zalim, tapi tolong kasihanilah saya.” Atau mungkin berlinang air mata, “Tolong ya Allah, saya baru bekerja. Ini pasti mimpi, benar-benar gaib.” Bukankah Allah yang kita mintai tolong juga gaib? Atau tersedu-sedu, “Ya Allah, ini sungguh tidak adil, saya bahkan belum gajian. Saya tidak terima!” Gaji memang belum diterima, tapi musibahnya sudah terjadi.

Saudaraku, yang benar adalah kita segera mengevaluasi diri. Dosa apa kita sehingga ditakdirkan bekerja di perusahaan yang akan bubar. Mungkin niat kita sewaktu mencari kerja salah, misalnya berniat memperkaya diri sendiri. Mungkin skripsi kita dulu dibuatkan atau menjiplak punya orang. Periksa, segera bertobat, dan terima takdir-Nya. Kemudian kembali berniat dan berikhtiar dengan baik dan benar. Selebihnya serahkan kepada Allah SWT.

Contoh lain, misalkan kita punya istri galak atau anak yang bandel. Maka segera periksa diri, dosa apa kita sehingga belum dikarunia istri yang lembut dan santun. Belum diberi anak yang saleh. Itu lebih bermakna daripada sedih maupun jengkel melihat kelakuan istri, atau menangis dan emosi pada anak.

Periksa seandainya kita suka menyakiti orang. Mungkin kita belum jadi contoh yang baik dan mendidik yang benar. Belum bisa bicara pakai hati, hanya bisa menyuruh dan melarang, atau jarang di rumah. Periksa terus. Karena itu urusan kita adalah bertobat, jadi contoh yang baik, nasehati dengan cara yang hikmat, dan doakan, sudah. Perkara membolak-balik hatinya, itu urusan Allah.

Jadi, jangan menangisi masalah. Apa pun masalah itu. Tapi mari kita keluarkan air mata untuk dosa yang telah mengundang masalah. Mari kita menangis bertobat. Sesali, dan kembalikan semuanya kepada Allah SWT. Pada waktunya akan diberi jalan keluar. Bukankah setiap jalan keluar itu milik Allah? Yang menyelesaikan persoalan adalah Allah, dan kita tidak diperintahkan mencari jalan keluar sendiri. Kita diperintahkan-Nya untuk bertakwa.

Air mata yang menangisi masalah itu tidak akan menyelesaikan masalah, dan tidak membersihkan dosa. Bahkan menangisi masalah sebetulnya cenderung menambah dosa. Karena tangisan itu berarti kita tidak rida pada takdir Allah. Kalau kita tidak menerima takdir-Nya, itu akan membuat Allah juga tidak rida pada kita.

Oleh sebab itu, kita juga tidak usah sibuk memikirkan masalah. Mungkin dengan sibuk mencari jalan keluar kita bisa tidak bersedih. Tapi kalau tidak bertobat, tetap saja akan menambah masalah. Misalkan saat ada masalah kita jengkel. Lalu karena terus-menerus memikirkan, kita jadi emosi, darah mendidih, otak matang, dan akhlak pun gosong. Malah semakin besar musibah.

Nah, kalau saudara sedang galau karena ada masalah, maupun sedang tidak konsentrasi karena ada sesuatu yang dipikirkan, maka ingatlah perumpamaan anak kecil yang bermain kotor-kotoran di awal tadi. Untuk apa kita menjadi anak kecil di dunia yang sementara ini? Mari segera kita memeriksa diri sendiri. Mari bertobat. Jangan menangisi masalah, dan jangan pula takut oleh masalah. Tapi takutlah tidak bisa menangisi dosa-dosa yang telah mengundang masalah atau pun musibah.


source : http://mozaik.inilah.com/read/detail/2166591/jangan-menangisi-masalah-atau-musibah

Terpopuler - 23:00 BMW 00:01 Bakal Garap Mobil Pintar Apple?

INILAHCOM, Munich - BMW dan Apple kabarnya tengah membahas kemungkinan kerjasama dalam pengembangan mobil, demikian laporan dari majalah otomotif Jerman,  Auto Motor und Sport.

Mengutip kantor berita  Reuters, majalah otomotif itu menjelaskan bahwa Apple terkesan dengan mobil listrik serat karbon dari BMW. Pihak BMW diberitakan apakah akan mengizinkan Apple untuk mengembangkan sistem operasi yang selama ini digunakan oleh peranti lunak kendaraan milik BMW atau tidak.

Auto Motor und Sport  juga menyebutkan, mobil Apple nantinya bisa dijual di toko Apple sendiri dan dilayani oleh diler dan bengkel resmi BMW. Sayangnya, rumor tersebut langsung dibantah oleh pihak yang bersangkutan.

Juru bicara BMW membantah kabar keterlibatan mereka dalam rencana pengembangan mobil bersama Apple. Sementara, juru bicara Apple menolak untuk mengomentari hal tersebut.

Seorang sumber terpercaya dalam industri otomotif mengatakan kepada  Reuters  bulan lalu, Apple memang mulai mendekati para ahli otomotif dan pemasok komponen. Ada ratusan karyawan yang telah dipekerjakan untuk proyek ini. [ikh]


source : http://teknologi.inilah.com/read/detail/2184683/bmw-bakal-garap-mobil-pintar-apple

Minggu, 08 Maret 2015

Terpopuler - 08:55 Liverpool 55:01 Gagal Raih Kemenangan dari Blackburn

INILAHCOM, Liverpool - Liverpool dipaksa bermain imbang tanpa gol oleh Blackburn Rovers di Anfield dalam pertandingan babak perempatfinal Piala FA, Minggu (8/3/2015) malam WIB.

Menurunkan skuad terbaik seperti Daniel Sturridge, Coutinho dan Jordan Henderson, tuan rumah tampil dominan dengan mencatat 76 persen penguasan bola. Ada 19 percobaan yang dibuat sepanjang laga, hanya ada empat yang tepat ke gawang.

Blackburn yang hanya mencatat 34 persen ball possession mampu melepaskan lima tendangan ke gawang, hanya satu yang membahayakan Simon Mignolet.

Dengan hasil imbang ini, kedua tim akan melakukan laga replay di kandang Blackburn Rovers, Ewood Park.

Jalannya Pertandingan:

Pertandingan baru berjalan tiga menit terjadi insiden yang melibatkan Marin Skrtel, bek Slovenia itu sempat tidak sadarkan diri usai terjatuh dan kepalanya terbentur tanah.[yob]


source : http://bola.inilah.com/read/detail/2185059/liverpool-gagal-raih-kemenangan-dari-blackburn

Terpopuler - 08:55 Bangunlah 55:01 Keluarga dengan Meneladani Keluarga Nabi

MINGGU pagi saya khutbah pernikahan puteri Prof. Imam M di Gedung Universitas Airlangga Surabaya. Sederhana saja isi khutbah saya bahkan terasa klasik sekali karena tak beriringan dengan teori rumah tangga kontemporer.

Saya merasa perlu mengutip kalimat-kalimat klasik yang banyak dilupakan "orang yang merasa modern" yang sepertinya terlarut dalam angan dan kompetisi kehidupan yang sangat menjebak.

Salah satu kalimat yang saya kutip adalah: "Setelah akad ini dilaksanakan, sang suami jadilah suami, sang istri jadilah istri, maka Anda berdua bahagia." Kalimat ini bukan milik suku tertentu atau agama tertentu, kalimat ini adalah bahasa hati para bijak yang diabadikan sejarah karena bersifat universal. Ketika sepasang suami istri tahu posisi dan tugasnya masing-masing kemudian melaksanakan sesuai dengan posisinya itu maka mereka akan bahagia.

Semua pasangan sesungguhnya tahu siapa yang sesungguhnya menjadi imam dalam keluarga dan siapa yang menjadi makmum. Imam harus alim alias paham agama sehingga layak diikuti oleh makmum. Makmum harus tunduk kepada dan mengikuti imam, bukan imam yang harus mengikuti makmum.

Dalam shalat berjamaah, makmum yang mendahului imam dinilai batal pahala berjamaahnya. Maka bagaimana dengan makmum yang tidak sehati atau bahkan membentak imam? Bukan hanya pahala jamaahnya yang batal, melainkan shalatnya juga batal.

Bangunlah keluarga dengan meneladani keluarga Nabi Ibrahim, keluarga Imran dan keluarga Nabi Muhammad. Tiga keluarga ini sungguh keluarga pilihan. Tauhid yang kuat, ketaatan pada syari'at yang hebat, kepatuhan semua keluarga pada apa yang dinyatakan oleh imam keluarga merupakan salah satu karakter unggul yang dimiliki keluarga ini.

Ingin menjadi keluarga bahagia? Bukalah sejarah orang-orang yang saya sebut di atas, teladanilah bagaimana menjadi suami dan istri yang baik, insyaAllah akan semakin damai dan tenteram. Salam, AIM@Surabaya.


source : http://mozaik.inilah.com/read/detail/2185001/bangunlah-keluarga-dengan-meneladani-keluarga-nabi

Terpopuler - 08:55 Menkumham 55:01 Serahkan Kasus Denny ke Bareskrim

INILAHCOM, Makassar - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Hamonangan Laoly menegaskan, kasus yang menimpa mantan Wamekumham HAM Denny Indrayana sepenuhnya diserahkan ke kepolisian.

"Semua diserahkan sepenuhnya kepada polisi yang mengaturnya," kata Yasonna di sela kunjungan di Lembaga Permasyarakatan Bolangi, Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (8/3/2015).

Menurut dia, dalam kasus yang menimpa Denny, Mantan Menkumham Amir Syamsuddin pun juga menjadi saksi.

"Ada dua sekarang, jelas semua kita serahkan sepenuhnya ke polisi," kata mantan politisi PDI Perjuangan itu.

Sebelumnya, Bareskrim Mabes Polri memanggil mantan Wamenkumham Denny Indrayana (DI) terkait dugaan korupsi kasus Payment Gateway di Kementerian Hukum dan HAM pada 2014.

Hal itu bermula dari laporan masyarakat yakni Samsul Rizal pada 10 Februari 2015 ke polisi tentang temuan adanya tindak pidana korupsi proyek layanan singkat pembuatan paspor senilai Rp32 miliar.

Polisi sudah memeriksa 12 saksi termasuk mantan Menkumham Amir Syamsuddin dengan pengakuan adanya dugaaan pelanggaran aturan atas penerapan proyek Payment Gateway dipimpin Denny Indrayana.

Selain itu Amir menyatakan telah menghentikan proyek tersebut di tengah jalan karena ada ketidakserasian dengan aturan Kementerian Keuangan yang berpotensi merugikan keuangan negara.

Sementara kuasa hukum Denny Indrayana, Heru Widodo menduga kasus yang dialamatkan pada kliennya merupakan bentuk kriminalisasi karena mendukung KPK atas terjadinya gesekan antara Polri. [tar]


source : http://nasional.inilah.com/read/detail/2185037/menkumham-serahkan-kasus-denny-ke-bareskrim