MINGGU pagi saya khutbah pernikahan puteri Prof. Imam M di Gedung Universitas Airlangga Surabaya. Sederhana saja isi khutbah saya bahkan terasa klasik sekali karena tak beriringan dengan teori rumah tangga kontemporer.
Saya merasa perlu mengutip kalimat-kalimat klasik yang banyak dilupakan "orang yang merasa modern" yang sepertinya terlarut dalam angan dan kompetisi kehidupan yang sangat menjebak.
Salah satu kalimat yang saya kutip adalah: "Setelah akad ini dilaksanakan, sang suami jadilah suami, sang istri jadilah istri, maka Anda berdua bahagia." Kalimat ini bukan milik suku tertentu atau agama tertentu, kalimat ini adalah bahasa hati para bijak yang diabadikan sejarah karena bersifat universal. Ketika sepasang suami istri tahu posisi dan tugasnya masing-masing kemudian melaksanakan sesuai dengan posisinya itu maka mereka akan bahagia.
Semua pasangan sesungguhnya tahu siapa yang sesungguhnya menjadi imam dalam keluarga dan siapa yang menjadi makmum. Imam harus alim alias paham agama sehingga layak diikuti oleh makmum. Makmum harus tunduk kepada dan mengikuti imam, bukan imam yang harus mengikuti makmum.
Dalam shalat berjamaah, makmum yang mendahului imam dinilai batal pahala berjamaahnya. Maka bagaimana dengan makmum yang tidak sehati atau bahkan membentak imam? Bukan hanya pahala jamaahnya yang batal, melainkan shalatnya juga batal.
Bangunlah keluarga dengan meneladani keluarga Nabi Ibrahim, keluarga Imran dan keluarga Nabi Muhammad. Tiga keluarga ini sungguh keluarga pilihan. Tauhid yang kuat, ketaatan pada syari'at yang hebat, kepatuhan semua keluarga pada apa yang dinyatakan oleh imam keluarga merupakan salah satu karakter unggul yang dimiliki keluarga ini.
Ingin menjadi keluarga bahagia? Bukalah sejarah orang-orang yang saya sebut di atas, teladanilah bagaimana menjadi suami dan istri yang baik, insyaAllah akan semakin damai dan tenteram. Salam, AIM@Surabaya.
source : http://mozaik.inilah.com/read/detail/2185001/bangunlah-keluarga-dengan-meneladani-keluarga-nabi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar