MENGANGGAP cukup warisan pemikiran masa lalu dan mengikutinya apa adanya tanpa ada tafsiran atau sentuhan baru yang berdialog dengan konteks kekinian dan kedisinian bisa jadi diatasnamakan menghormati tradisi lampau tapi juga bisa jadi realitanya adalah potret kemalasan dan kejumudan diri.
Ibnu Khaldun menyatakan dalam bahasa yang lebih keras: "Mengikuti pendapat orang terdahulu tanpa memahami alasan dan konteksnya bukanlah bermakna bahwa orang-orang yang telah mati itu masih hidup melainkan orang-orang yang masih hidup ini sesungguhnya yang telah mati."
Jangan emosional membaca statemen itu. Statemen Ibnu Khaldun ini sesungguhnya adalah motivasi agar setiap generasi itu berfikir kreatif dan inovatif yang dengannya peradaban akan semakin tumbuh dan berkembang menuju puncak nilai sesuai dengan perkembangan zaman.
Hal ini tidak berarti prinsip dasar dan nilai universal harus berubah. Prinsip dasar dan nilai universal itu tetap dan bersifat abadi, namun format, bentuk atau model aplikasinya bisa jadi berubah dan berkembang. Dengan pola pemikiran seperti inilah perkembangan sains dan teknologi menemukan justifikasi untuk terus berkhidmat demi kemaslahatan hidup.
Umat Islam Indonesia membutuhkan cendekiawan-cendekiawan progresif semacam ini untuk mengawal nuansa kehidupan Islami yang moderat, damai dan mendamaikan untuk semuanya. Salam, AIM, Pengasuh pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]
source : http://mozaik.inilah.com/read/detail/2188667/berkhidmat-demi-kemaslahatan-hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar