Jumat, 27 Maret 2015

Terpopuler - 23:00 Pengharapan 00:03 yang Baik

PARA bijak berkata bahwa sebagian manusia menjadi kunci datangnya kebaikan dan penutup jalan hadirnya kejahatan. Sebagian lainnya adalah mereka yang menjadi kunci terjadinya kejahatan dan menjadi penutup pintu kebaikan.

Berbahagialah kelompok pertama dan celakalah mereka yang masuk dalam golongan kedua. Kelompok yang berbahagia itu adalah kelompok yang selalu mencita-citakan terwujudnya kemaslahatan bersama. Hidupnya bersifat aktif, dinamis dan penuh harapan baik.

Bosan, jenuh, malas, bersifat destruktif, menjadi benalu (parasit) masyarakat merupakan karakter kelompok kedua. Pada ujungnya biasanya mereka ingin segera mengakhiri hidupnya dan atau mengakhiri hidup orang lain.

Penyakit jiwa ini muncul ketika pengharapan kehidupan masa depan yang lebih baik sudah dirasa mulai tertutup rapat. Perasaan tertutupnya pintu kebaikan pada masa yang akan datang ini sangat berkaitan dengan ilmu seseorang itu tentang kehidupan dan keyakinan seseorang kepada Tuhannya.

Dibuatnya gembok lengkap dengan kunci sesungguhnya cukup menjadi isyarat bahwa tidak ada jalan buntu kehidupan yang tidak memiliki jalan keluar. Keimanan akan adanya Allah sebagai Yang Maha Kuasa sesungguhnya cukup menjadi penguat hati bahwa semuanya bergerak dan berubah sesuai kehendakNya. Yang terpenting kemudian adalah bagaimana caranya kita menambah keilmuan kita tentang hidup dan memantapkan keimanan kita kepadaNya.

Ada beberapa saran yang perlu dilakukan untuk tetap optimis dan berpengharapan baik serta menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup jalan kejelekan. Saran yang pertama adalah berkeyakinan teguh pada Allah (i’tishaam bi Allaah) dan berpegang teguh pada agama Allah (i’tishaam bi hab Allaah). Kuatnya keyakinan dan ketetapan diri dalam ketaatan akan menjadikan hati seorang hampa senantiasa diberikan cahaya optimis dan berpersepsi positif atas segala yang terjadi.

Seorang tokoh alim bernama Musthafa al-Siba’i menyatakan bahwa barang siapa mengenal Tuhannya dengan pengenalan yang sesungguhnya, maka dia akan melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sebagai sesuatu yang indah. Orang semacam ini akan selalu berbahagia dengan segala nikmat dan pemberian Allah, dan Allah tidak akan pernah mengecewakan dan menyia-nyiakan kebaikan yang dilakukannya. Bacalah QS Ali Imron: 171 sebagai salah satu referensi.

Saran kedua adalah dengan meninggalkan keraguan dan ketakutan yang berlebihan dalam mensikapi semua peristiwa kehidupan. Seringkali terjadi adanya dugaan negatif seseorang akan kondisi dirinya yang lebih besar dari pada kondisi aslinya.

Ada orang yang terlalu takut untuk menjadi gemuk sehingga setiap hari risau dengan jenis makanan yang tersedia di hadapannya. Orang ini setiap saat fokus mutlak pada timbangan kalori dan timbangan berat badan sampai melupakan pentingnya menghitung timbangan amalnya untuk kehidupan akhiratnya yang kekal.

Ada orang yang fokus sekali dengan rontoknya rambut dan tumbuhnya jerawat di wajahnya disertai dengan ketakutan akan rusaknya self-image (citra dirinya) pada masa berikutnya. Tidak sedikit orang dengan tipe seperti ini mengakhiri hidupnya hanya karena salah menilai citra diri dan keliru dalam mempersepsi hakikat kebahagiaan; mereka tidak peduli dengan rontoknya keyakinan dan tumbuhnya benalu iman dalam hatinya.

Banyak orang lupa bahwa di balik sesuatu yang ditakutkan itu seringkali Allah sediakan sesuatu yang diharapkan. Sangat sering terjadi dalam kehidupan kita bahwa persoalan yang ditakuti ternyata tidak seberat apa yang dibayangkan. Keyakinan bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang serta Maha Adil dan Maha Pemurah akan sangat membantu kita untuk terus berpengharapan baik dalam menjalani takdir hidup

Saran ketiga adalah anjuran untuk mengurangi dan bahkan membuang kebiasaan mengeluh. Dalam QS Al-‘Aadiyat: 6 Allah berfirman bahwa sesungguhnya manusia itu memiliki kecenderungan mengeluh. Hanya orang-orang yang berbaik sangka pada Tuhannya yang akan mampu menjalani kehidupan ini dengan senyuman optimisme. Mengeluh bukanlah cara yang tepat untuk menghindarkan diri dari kondisi yang tidak disuka. Tawakkal dan pasrah dirilah yang akan menempatkan dirinya dalam dekapan kasih sayang Allah.

Mengeluh hanya akan memperkeruh hati, baik hati sendiri dan bahkan pula hati orang lain yang berada di sekitarnya. Terlebih lagi ketika orang yang di sekitarnya itu juga merupakan sesama pengeluh. Orang waras tidak akan pernah menitipkan keluhannya kepada makhluk yang juga berpotensi menjadi pengeluh, dia akan menyampaikan seluruh keluhannya pada Dzat Yang tidak pernah mengeluh.

Saran keempat adalah anjuran untuk merendahkan diri di hadapaan Allah dengan melakukan pengakuan (i’tiraaf). Berdoa dengan melantunkan doa Nabi Yunus yang menggabungkan pengakuan kesalahan diri dengan peneguhan komitmen tauhid dengan tahlil dan tahmid adalah suatu perbuatan yang dianjurkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Beliau bersabda: “Sesungguhnya tidak berdoa seorang muslim kepada Tuhannya dengan doa Dzunnun (Nabi Yunus) kecuali dikabulkan doanya oleh Allah swt.”

Terbukanya jalan yang terkunci seringkali adalah dengan pengakuan dosa dan istighfar, karena tidak jarang jalan hidup menjadi buntu dan terkunci adalah karena dosa dan kesalahan yang dilakukan. Pertanyaan seberapa lama harus beristighfar agar segera dibukakan jalan keluar dari masalah dapat dijawab dengan perumpamaan bahwa botol yang selalu dijadikan wadah cairan kotor seringkali menjadi lebih lama membersihkannya dibandingkan dengan botol yang hanya satu kali dibuat wadah cairan kotor.

Keyakinan diri dan kebersihan hati akan menjauhkan kita dari hilangnya asa dan putusnya harap. Selagi jantung masih berdetak dan darah masih mengalir tetapkan hati untuk tetap optimis dan berpengharapan baik karena sesungguhnya bukan kitalah yang menentukan nasib, melainkan Allah Tuhan kita. Tugas kita adalah percaya pada petunjukNya dan mengikuti arah yang dipanduNya, maka Dia akan mengantarkan kita pada titik akhir yang diridlaiNya.

Percayalah hanya kepada Allah dan RasulNya yang fimanNya dan sabdanya tidak akan pernah salah. Jangan seperti kisah Syekh Juha yang terlalu percaya pada bujukan temannya untuk menyembelih kudanya karena, menurut temannya, percuma saja memelihara kuda sementara sebentar lagi akan kiamat. Setelah makan sate dan steak kuda bersama, teman-temannya berbahagia dengan mandi bersama di sungai. Mereka bergembira karena telah berhasil memperdaya Syekh Juha yang lugu itu.

Syekh Juha baru tersadar bahwa dirinya tertipu, karena tidak mungkin mereka menyambut kiamat dengan mandi tertawa. Semua baju dan celana temannya dibakar oleh Syekh Juha di tungku api tempat pembakaran daguing kuda itu. Semua temanya kaget dan bertanya mengapa dia membakarnya. Syekh Juha menjawab: “Percuma pakai baju dan celana, sementara sebentar lagi kiamat.” [*]


source : http://mozaik.inilah.com/read/detail/2190419/pengharapan-yang-baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar