Jakarta - Anggota Komite Eksekutif PSSI, Djamal Azis, membantah tudingan media-media yang menyebut La Nyalla Mahmud Mattalitti sebagai mafia sepak bola dan menikmati uang PSSI.
Posisi La Nyalla sebagai ketua umum baru PSSI terancam setelah Kementerian Pemuda dan Olahraga resmi mengumumkan 17 nama yang masuk dalam Tim Transisi.
Keberadaan Tim Transisi adalah untuk mengambil alih peran PSSI yang dibekukan Menpora per 17 April lalu atau satu hari sebelum pelaksanaan Kongres Luar Biasa PSSI.
Hal ini membuat Djamal tak habis pikir. Ia heran dengan keputusan Menpora membekukan PSSI dan membentuk Tim Transisi. Padahal, La Nyalla baru saja terpilih sebagai ketua umum PSSI baru periode 2015-2019.
"Ibarat kecemplung, pak Nyalla itu kecemplung di sepak bola. Tidak punya niat apapun di sepak bola, namun karena melihat ada ketidakbenaran, maka dia lanjutkan perjuangan di sepak bola," ujar Djamal.
"Perjuangan di KPSI dulu menghasilkan kebenaran, makanya pak Nyalla sangat mudah terpilih kembali menjadi ketua umum, karena semua anggota PSSI dan pemilik suara tahu kredibilitas beliau," ia menambahkan.
Dengan pembekuan PSSI dan dibentuknya Tim Transisi, Djamal menilai Menpora Imam Nahrawi telah menghancurkan niat baik PSSI di bawah komando La Nyalla.
"Demi Allah saya tahu betul pak Nyalla itu tulus untuk sepak bola. Saya tahu betul kinerja beliau dan langkah pak Nyalla ini di PSSI. Ini Menpora malah menghancurkan semua niat baik PSSI di bawah kepemimpinan La Nyalla," ia melanjutkan.
Lebih lanjut, Djamal membantah tudingan media-media yang menyebut La Nyalla sebagai mafia sepak bola atau menikmati uang dari PSSI. Ia menyebut hal tersebut sebagai sebuah fitnah.
"Yang ada itu pak Nyalla mengeluarkan semua uang pribadinya untuk sepak bola. Membiayai pegawai, membiayai persiapan Timnas, dari junior sampai senior, membiayai klub-klub sudah tidak terhitung nominalnya. Nah, kok orang seperti ini malah dijegal. Saya sudah tidak habis pikir apa yang ada dipikiran Menpora," imbuhnya.
Djamal memohon kepada semua pihak yang mendukung Menpora agar menyudahi semua ini, karena yang menjadi korban bukan hanya La Nyalla dan pengurus PSSI lainnya.
"Semua klub, pemain bola, tukang asongan, pedagang baju, penjual tiket, panitia pelaksana pertandingan, sopir-sopir busa yang membawa suporter, suporter klub, pecinta sepak bola bahkan Indonesia kini sudah diambang kehancuran karena sanksi akan diberikan FIFA karena ulah Menpora," Djamal menutup.
FIFA memberikan batas waktu 29 Mei mendatang untuk PSSI agar segera menyelesaikan kisruh yang terjadi dengan Kemenpora.
source : http://bola.inilah.com/read/detail/2203060/la-nyalla-mafia-sepak-bola-itu-fitnah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar