Jakarta – Pada 2015, saham-saham di sektor konstruksi dinilai bukan lagi sektor favorit. Sebab, strong uptrend-nya sudah berakhir. Meski begitu, tetap direkomendasikan beli. Seperti apa?
“Saya melihat, potensi penguatan di saham-saham konstruksi tidak akan seagresif seperti kemarin-kemarin yang mengalami reli besar-besaran. Mungkin sekarang, laju saham-saham konstruksi lebih ke konsolidasi,” katan Yuganur Wijanarko, kepala riset HD Capital kepada INILAHCOM di Jakarta.
Meski begitu, Yuga tetap merekomendasikan beli untuk saham-saham konstruksi. “Hanya saja, untuk semua saham konstruksi target jualnya sebenarnya sudah tidak begitu jauh,” ujarnya. “Sekarang, konstruksi bukan lagi sektor saham yang favorit.”
Secara fundamental, semua emiten konstruksi memang profitable. Hanya saja, kenaikan belakangan ini terlalu tinggi. “Sekarang, sudah mendekati Juni di mana pasar akan mencermati realisasi proyek-proyeknya, ada atau tidak,”
Belum lagi dengan rencana rights issue yang sudah lama bergulir di tengah-tengah pasar sehingga sentimen di sektor ini menjadi penahan untuk kenaikan lanjutan. “Ekspektasi pasar yang tinggi atas emiten-emiten konstruksi sebelumnya, sekarang tinggal menunggu pembuktian,” timpal dia.
Kemungkinan, menurut dia, realisasi proyeknya sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga pasar kemungkinan tidak akan kecewa. “Hanya saja, realiasi proyeksi itu tidak di atas ekspektasi sehingga menghambat untuk penguatan lanjutan,” tandas Yuganur.
Sejauh ini, apakah proyek-proyek sesuai target atau justru mundur memang belum diketahui. “Jadi, hingga tiga bulan ke depan, laju saham-saham konstruksi berpeluang konsolidasi. Setelah itu, pasar akan menunggu sentimen baru,” ucapnya.
Dia menyarankan beli dengan pola trading-nya, paling lama sebulan. “Kalau tiga bulan terlalu lama karena target harganya sudah dekat. Jika sudah tercapai, boleh jual dalam sebulan,” tuturnya.
Intinya, dia menegaskan, tren penguatan saham-saham konstruksi tidak semasif tahun 2014 yang semuanya strong uptrend. Sekarang, tren pergerakan harganya berubah menjadi konsolidasi semuanya. “Bisa dikatakan, booming-nya saham-saham konstruksi sudah berakhir. 2015 bukan tahun saham-saham konstruksi melainkan sudah terbukti di 2014. Puncaknya sudah terjadi di Januari 2015. Setelah itu, sudah enggak ada lagi, reli naik di saham konstruksi,” imbuhnya.
Berikut ini rincian penjelasan saham per sahamnya:
source : http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2195734/tak-lagi-favorit-tetap-beli-saham-konstruksi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar