LAMA sekali saya tidak nonton TV. Setelah subuh saya sempat melihat TV dan merasa aneh dengan komentar BI (Bank Indonesia) yang berkomentar positif dengan tembusnya dollar pada batas psikologis Rp13.000. Di running text tertulis: Dollar tembus 13.000, BI: "Orang Asing senang datang ke Indonesia."
Sementara itu, running text di TV lain ada komentar pengusaha atas masalah yang sama dengan tulisan begini: "Dolar tembus Rp13.000, pengusaha lokal menjerit." Saya gagal paham, apakah BI akan tetap berusaha menaikkan nilai dolar biar orang asing semakin tersenyum dan pengusaha lokal semakin menjerit?
Saya gagal paham pula apakah BI sedang mengikuti "gaya sufi" yang selalu mencari sisi positif dari peristiwa negatif ataukah sudah stress dan tak ada cara lain untuk menjawab kritik akan kegagalan ekonomi kita. Yang saya pahami adalah bahwa BI salah memposisikan diri dalam berkomentar. Harusnya yang berkomentar seperti itu adalah rakyat, bukan pemerintah.
Kesalahan posisi dalam berkomentar dan berdalil bisa bahaya dan memunculkan konflik yang tak bertemu ujung penyelesaian. Seorang tamu berkata pada tuan rumah: "Tuan rumah yang baik, harus memuliakan tamu dan cepat-cepat menghidangkan makanan terbaik."
Sementara sang tuan rumah berkata kepada tamunya: "Tamu yang baik itu bagaikan mayyit, mau diapakan ya terserah tuan rumah. Jangan banyak meminta, berharap dan protes." Kalimatnya bagus, sesuai hadits dan tidak salah, namun posisi penyampainya yang salah dan terbalik. Harusnya tuan rumahlah yang menyatakan yang pertama dan tamulah yang mengucapkan yang kedua.
Belum habis kebingungan saya akan running teks itu, muncullah gambar Menteri Dalam Negeri yang mewacanakan bantuan dana partai Rp1 triliun per tahun. Waduh, semakin kagetlah saya. Ribuan jalan berlubang, ratusan jembatan roboh, jutaan rumah tak layak huni belum mendapatkan bantuan perbaikan ternyata disodori berita bahwa partai yang sering goyang dangdut ketika kampanye dan calegnya sebar-sebar duit rutinan 5 tahun sekali "bak orang kelebihan duit" itu akan diberikan bantuan oleh pemerintah. Luar biasa, saya gagal paham, tapi menolak lupa. Ada komentar? Salam, AIM, Surabaya. [*]
source : http://nasional.inilah.com/read/detail/2186001/gagal-paham-maknai-komentar-pejabat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar